Rebana biang

Rebana biang merupakan salah satu kesenian Indonesia. Kesenian ini tumbuh di masyarakat Betawi, Jakarta dan sekitarnya. Namun, keberadaan rebana biang mulai hampir punah.[1] Dalam pertunjukannya, kesenian tersebut terkadang ikut menyertakan gaya silat Cingkrik khas Betawi. Pada 2017, rebana biang termasuk satu di antara kesenian dan kearifan lokal asal Betawi yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional.[2]

Asal usul rebana biang

Ada banyak versi kisah terkait keberadaan awal rebana biang di Pulau Jawa. Ada kisah lisan yang mengungkapkan bahwa seseorang bernama Pak Kumis membawa rebana biang dari Banten pada tahun 1860. Ada juga cerita lain bahwa rebana biang sudah ada sebelum agama Islam datang ke tanah Jawa, terutama Jakarta. Versi lain mengatakan, rebana biang dibawa oleh pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Agung ke tanah Betawi. Fungsi kesenian rebana biang yang mendapat pengaruh Islam saat itu sebagai hiburan saat penyambutan tamu sekaligus sarana untuk melakukan kegiatan keagamaan, yakni tarekat. Oleh karena itu, kesenian rebana biang sangat dipengaruhi akulturasi Melayu, Arab, dan Jawa. Pada masa keemasannya, pemain rebana biang sebagian besar adalah pedagang atau petani kecil.

Seperti umumnya seni pertunjukan tradisional yang mengalami pergeseran fungsi, rebana biang juga mengalami perubahan. Pertunjukan rebana biang saat ini untuk memeriahkan berbagai acara, seperti pernikahan, ulang tahun, serta khitanan.

Bentuk dan jenis

Bentuk rebana biang sekilas seperti rebana pada umumnya, tetapi yang membedakannya adalah ukurannya. Rebana biang merupakan salah satu rebana yang berukuran besar. Rebana ini terdiri atas tiga buah rebana. Masing-masing rebana mempunyai nama yang berbeda-beda.

Rebana yang kecil bergaris tengah 30 sentimeter (cm) diberi nama gendung. Sedangkan rebana yang berukuran sedang dan bergaris tengah 60 cm dinamai kotek. Rebana yang garis tengahnya mencapai 90 cm dikenal memiliki sejumlah nama, yakni rebana cede, rebana salun, rebana cembyung, dan terbang selamat.[3] Rebana jenis ini tidak memakai kerincingan. Cara pemasangan wangkis atau kulitnya pun berbeda. Rebana biang juga memiliki pasak sebagai dogdog reog sunda atau tifa maluku.

Cara memainkan ketiga rebana itu berbeda-beda, yang disesuaikan dengan ukurannya. Misalnya, rebana yang berukuran kecil dimainkan sambil duduk. Rebana yang berukuran besar biasanya sukar dimainkan. Pemain harus menopang atau menahan rebana dengan kaki dan lutut. Pengaturan suara menggunakan cara tengkepan dengan telapak kaki.

Ketiga rebana ini dalam membawakan lagu mempunyai fungsi masing-masing. Rebana paling besar berfungsi sebagai gong. Kotek lebih berfungsi sebagai improvisasi. Pemain kotek biasanya paling mahir. Rebana paling kecil dipukul secara rutin untuk mengisi irama pukulan sela dari rebana paling besar.

Pertunjukan rebana biang masa kini banyak menambahkan alat musik, seperti terompet, tehyan, rebab, dan biola. Penambahan ini untuk menggantikan lagu-lagu bernapaskan zikir Islam.

Lagu-lagu dalam bebana biang

Setiap grup pertunjukan rebana biang mempunyai banyak koleksi lagu yang berbeda. Kalaupun ada yang judul lagunya sama, gaya dan cara memainkannya justru akan berbeda. Banyak judul lagu yang bertema Islam hingga Melayu dimainkan dalam pertunjukan rebana biang, antara lain, Robunasalun, Allauah, Alpasah, Dulsayidina, Sangrai Kacang, serta Anak Ayam.

Ada dua lagu rebana biang yang didasarkan pada cepat atau lambatnya irama lagu. Jika dalam lagu Rabbuna Salun, Allahah, dan Hadro Zikir, rebana biang dimainkan dengan tempo yang cepat. Lagu rebana biang yang berciri khas dengan tempo cepat biasanya disebut lagu Arab atau lagu nyalun. Jika berirama lambat, antara lain Alfasah, Yulaela, Dul Laila, Anak Ayam Turun Selosin, dan Sangrai Kacang, biasanya lagu rebana biang ini disebut lagu rebana atau lagu Melayu.

Tidak hanya sebagai pertunjukan utama, tetapi rebana biang juga bisa menjadi pengiring kesenian Betawi lainnya. Ada tari belenggo dan teater belantek. Rebana biang sering menjadi pengiring dua kesenian tersebut. Cepat atau lambatnya irama dari rebana biang ini diperlukan untuk mengiringi tari belenggo.

Penyebaran rebana biang

Di beberapa tempat, kesenian rebana biang disebut rebana salun. Wilayah penyebaran rebana biang, yakni di daerah Jakarta dan sekitarnya, dari Ciganjur, Cijantung, Cakung, Ciseeng, Parung, Pondok Rajeg, Bojong Gede, Kalibata, Tebet, Condet, Rambutan, Kalisari, Ciganjur, Bintaro, Cakung, hingga Bojong Gede.

Grup rebana biang yang terkenal pada tahun 1950-an adalah kelompok pimpinan Kong Sa'anan. Grup ini kerap menampilkan tari ronggeng gaib dalam pementasannya. Ronggeng gaib inilah yang menjadi daya tarik sehingga para penonton rela bertahan untuk menonton pertunjukan rebana biang hingga semalam suntuk. Kong Sa’anan kini tidak bisa berpentas dengan grupnya karena rebana biangnya telah dijual.[4]

Referensi

  1. ^ Abdulrahman Berjuang Melestarikan Rebana Biang, diakses tanggal 2017-10-16 
  2. ^ "Delapan Kearifan Lokal?Betawi?Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya". Tempo.co. Diakses tanggal 2017-10-17. 
  3. ^ "Jakarta.go.id • Detail | Encyclopedia". www.jakarta.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-10-16. Diakses tanggal 2017-10-16. 
  4. ^ "Rebana Biang dan Si Ronggeng Ghaib yang Menghilang". Sportourism.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-05-20. Diakses tanggal 2017-10-16.