Hulubalang Raja

Hulubalang Raja (judul lengkap: Hulubalang Raja: kejadian di pesisir Minangkabau tahun 1662-1667) adalah novel karya Nur Sutan Iskandar yang pertama kali diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1934. Novel ini berkisah tentang konflik antara raja-raja yang terjadi di pesisir selatan Minangkabau pada abad ke-17, yang juga melibatkan kompeni Belanda dan Aceh.

Novel ini ditulis berdasarkan keterangan sejarah. Dalam kata pengantarnya Nur Sutan Iskandar menyebutkan bahwa "segala keterangan dan cerita yang berhubungan dengan sejarah yang terdapat dalam buku ini dipungut dari kitab De Weskust en Minangkabau (1667-1668), yaitu academisch proefschrift oleh H Kroeskamp yang dicetak oleh Drukkerij Fa. Schotanus & Jens di Utrecht dalam 1931". Hulubalang Raja menurut Ajip Rosidi dan H.B. Jassin merupakan novel terpenting Nur Sutan Iskandar. Novel ini juga merupakan novel pertama Indonesia yang beralur ganda.[1]

Sampai cetakan ketiga, Hulubalang Raja diterbitkan Balai Pustaka. Cetakan keempat diterbitkan penerbit Nusantara Bukittinggi-Jakarta. Cetakan selanjutnya sampai sekarang kembali ditangani Balai Pustaka.

Ringkasan cerita

Ketika Ambun Suri, putri Raja Di Hulu sudah dewasa, diundanglah para bangsawan di sekitar Kampung Hulu Inderapura untuk mengadu peruntungan menjadi suaminya. Hampir saja tidak ada yang beruntung, kecuali Sultan Muhammad Syah dari Kota Hilir Inderapura. Ambun Suri menerimanya bukan karena tertarik, tapi karena Sultan Muhammad Syah merupakan raja yang lebih berkuasa daripada Raja Di Hulu, dan dia ingin berbakti kepada orang tuanya.

Kejadian tersebut mengundang pergunjingan di masyarakat, karena Sultan Muhammad Syah adalah sultan yang tamak yang menurut mereka tidak patut menikah dengan putri cantik yang berbudi tersebut. Putri Kemala Sari, istri pertama Sultan Muhammad Syah juga panas hatinya dan tidak merelakan suaminya memperistri Ambun Suri, yang dulu menjadi teman sepermainannya. Dia pun merencanakan menggagalkan perkawinan tersebut.

Kemala Sari mengajak Ambun Suri mandi di sungai. Di sana dia mencelakakannya sehingga putri yang baik hati tersebut hanyut tenggelam. Segala usaha mencari mayatnya gagal.

Sutan Ali Akbar yang bergelar Raja Adil, kakak Ambun Suri marah ketika dia mengetahui kematian adiknya adalah ulah istri Muhammad Syah. Perang pun pecah antara kedua raja tersebut. Muhammad Syah kemudian meminta bantuan kompeni, yang menambah kegeraman Raja Adil.

Namun akhirnya Raja Adil kalah, dan daerahnya dibumihanguskan. Penduduknya dibinasakan, beserta kedua orang tua Raja Adil. Dia sendiri mundur beserta pasukannya untuk menyusun kekuatan kembali.

Sementara itu cerita beralih kepada Sutan Malakewi, seorang pemuda yang merantau mengadu peruntungan. Dia meninggalkan kampungnya karena kegemarannya menyabung ayam telah menghabiskan kekayaan orang tuanya, yang kemudian tidak mau lagi memberinya uang. Dia bergabung dengan rombongan saudagar, yang kemudian diserang penyamun. Sutan Malakewi berhasil meloloskan diri, dan ditolong oleh Putri Rubiah yang memiliki putri cantik yang bernama Sarawaya.

Sutan Malakewi dibawa menghadap Orang Kaya Kecil, yang punya hubungan dengan kompeni Belanda. Orang Kaya Kecil kemudian menganggap Sutan Malakewi sebagai anaknya sendiri. Apalagi kemudian dia mengetahui Sutan Malakewi sering menumpas orang-orang Pauh yang sering melakukan penyerangan terhadap Padang, pusat kekuasaan kompeni di pesisir Minangkabau . Sutan Malakewi kemudian berkomplot dengan kompeni.

Pada saat itu kompeni tidak hanya bermusuhan dengan raja-raja setempat, tetapi juga dengan Aceh yang masih berkuasa di daerah utara pesisir Minangkabau. Sutan Malakewi, yang kemudian diberi gelar Hulubalang Raja, tidak menolak untuk menumpas musuh-musuh kompeni. Dia berhasil menghancurkan musuh-musuhnya, kecuali Raja Adil yang gigih bertahan.

Hulubalang Raja kemudian mencari adiknya yang dikabarkan diculik oleh Raja Adil. Dia meninggalkan Orang Kaya Kecil dan Putri Sarawaya, yang kini sangat mencintainya, masuk ke daerah Raja Adil dengan menyamar. Namun penyamarannya terbongkar. Dia kemudian di bawa ke hadapan Raja Adil. Hulubalang Raja kemudian terkejut karena ternyata adiknya Adnan Dewi telah menjadi istri Raja Adil. Orang yang menjadi musuhnya selama ini ternyata iparnya sendiri. Raja Adil dan Hulubalang Raja kemudian melupakan permusuhan mereka dan berdamai.

Referensi

  1. ^ Maman S. Mahayana dkk. Ringkasan dan ulasan novel Indonesia Modern. Jakarta: Grasindo, 2007, hal. 53